Kerja Keras adalah Energi Kita

Kerja Keras Adalah Energi KitaPT Pertamina

KERJA KERAS UNTUK PEMBAHARUAN ENERGI KITA

Salah satu entitas yang tidak akan pernah terlepas dari setiap perbincangan dan perdebatan mengenai perjalanan kelangsungan peradaban manusia adalah energi. Pergeseran dan perpindahan fase kehidupan generasi penghuni bumi dari satu tingkat peradaban ke tingkat berikutnya selalu meniscayakan tersedianya sumber energi yang dapat menunjang laju peradaban tersebut.

Pada fase-fase awal peradaban, sumber energi yang dibutuhkan baru sekedar untuk memenuhi kebutuhan energi individu, seperti makanan. Namun pada tahapan berikutnya, seiring dengan laju kerja keras yang membuahkan penemuan-penemuan penting yang mempengaruhi kehidupan masyarakat, terasa diperlukan sumber-sumber energi yang dapat digunakan untuk menunjang pengoperasian perangkat-perangkat penopang kehidupan bermasyarakat.

Pemanfaatan energi untuk menggerakkan perangkat penopang nafas peradaban berjalan secara gradual dan dimulai dari tingkat-tingkat yang paling sederhana. Untuk mencapai tingkat yang lebih maju, selalu meniscayakan kerja keras. Tercatat dalam salah satu fase awal sejarah peradaban, untuk menggerakkan perangkat penggiling padi, jagung dan gandum yang masih dalam tingkat sederhana, diperlukan energi gerak sapi, kerbau atau kuda bahkan kambing untuk menarik roda penggilingannya. Energi dari sumber yang sama juga diperlukan untuk menarik pedati, gerobak dan kereta. Di daerah kutub, energi gerak anjing dimanfaatkan untuk menarik kereta salju. Di sungai dan lautan, energi manusia dipekerjakan untuk menggerakkan dayung-dayung perahu.

Namun energi gerak manusia dan binatang dirasa tidak lagi mencukupi ketika peradaban mulai menemukan cara-cara baru dalam moda-moda produksi dan transportasi. Mulailah manusia menengok ke alam secara lebih luas. Dimanfaatkanlah angin untuk menggerakkan kapal-kapal layar di lautan dan kincir angin untuk keperluan pertanian di daratan.

Revolusi industri yang kemudian terjadi pada masa berikutnya memaksa manusia berpikir dan bekerja keras untuk menemukan sebentuk energi baru untuk menggerakkan berbagai mesin temuan baru yang selain dapat menghasilkan produk dan kapasitas berskala besar juga menuntut sumber energi yang tidak sedikit, yang tidak dapat dipenuhi dengan sekedar energi manusia dan binatang yang durasinya sangat terbatas, atau angin yang tidak selalu dapat diharapkan stabilitasnya. Terpikirkanlah adanya krisis energi.

Jika alam menyediakan angin untuk sumber energi atas penemuan berupa kapal layar dan kincir angin, maka semestinya alam juga menyediakan sumber energi untuk penemuan-penemuan baru yang lebih mutakhir. Demikian kira-kira logika yang berkembang.

Dari kerja keras eksperimen di laboratorium berbekal eksplorasi tanpa kenal lelah atas alam, mula-mula ditemukanlah batubara yang dapat dimanfaatkan sebaga bahan bakar mesin uap yang menggerakkan kereta uap, pabrik-pabrik berkapasitas besar dan kereta bermesin yang kemudian disebut mobil.

Penemuan tersebut kemudian diikuti dengan penemuan minyak bumi, yang merupakan ”saudara sepupu” dari batubara, seiring dengan dibutuhkannya energi yang berbahan baku lebih ringan namun memiliki daya dorong atau daya gerak yang besar atau bahkan lebih besar dengan kadar polusi yang lebih rendah. Singkatnya, bahan bakar minyak (BBM) disadari sebagai bahan bakar yang lebih efektif dan lebih efisien, terutama untuk penggerak mesin-mesin berkapasitas kecil namun memerlukan durasi yang panjang dalam penggunaannya.

Laju perkembangan teknologi tidak terhenti. Manusia kemudian menemukan berbagai piranti kecil yang dapat membantu kerja manusia menjadi lebih efektif dan efisien. Diperlukanlah sumber energi yang lebih praktis, baik dari segi penggunaan maupun penyediaannya.

Ditemukannya listrik dan kelistrikan menjawab kebutuhan ini. Namun listrik sebagai sumber energi masih memerlukan sumber energi lain untuk menggerakkan mesin pembangkitnya. Sekali lagi sumber energi yang langsung dapat dimanfaatkan dari alam seperti air dan angin dirasa kurang memadai karena ketidakstabilan angin dan terbatasnya volume air yang memenuhi standar dan kapasitas sebagai penggerak generator pembangkit. Pilihan kemudian kembali jatuh pada bahan bakar minyak setelah disadari bahwa di kandungan perut bumi, terdapat sumber minyak dengan kapasitas volume yang luar biasa besar.

PERTAMINA DAN KONVERSI MITAN KE BBG

Jatuhnya pilihan pada minyak bumi sebagai bahan bakar utama ”penggerak dunia” menuntut tersedianya suplai bahan bakar minyak dalam jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan. Namun dikarenakan pengadaan atas BBM ini tidak dapat dilakukan oleh setiap individu mengingat proses menghadirkan minyak bumi menjadi bahan bakar yang siap dimanfaatkan, yang kemudian dikenal sebagai ”Bahan Bakar Minyak” (BBM), adalah sebuah proses bertahapan panjang dalam kerja keras, hadirlah perusahaan-perusahaan yang mendedikasikan dirinya untuk terpenuhinya pasokan BBM sesuai kebutuhan.

Di Indonesia, dengan kesadaran bahwa di satu sisi diperlukan ketersediaan pasokan BBM berskala sangat besar untuk mencukupi kebutuhan ratusan juta warganya dan di sisi lain bahwa bumi, air dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya adalah untuk kesejahteraan rakyat dan karenanya harus dikuasai oleh negara, maka dibentuklah badan usaha milik negara yang menangani penyediaan bahan bakar ini, yang kemudian diberi label PT Pertamina atau sering disebut dengan ”Pertamina” saja. Pertamina inilah yang kemudian bertanggung jawab atas ketersediaan pasokan bahan bakar bagi seluruh warga masyarakat dan institusi-institusi yang memerlukannya di Indonesia.

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya, sebagai badan usaha perminyakan milik negara, Pertamina tidak pernah dapat terlepas dari kebijakan negara, bahkan kebijakan pemerintah. Berbagai langkah yang diambil oleh Pertamina harus selalu menyesuaikan dengan haluan negara dan arah kebijakan pemerintah dan bahkan terkadang ”arah angin” politik. Hal ini tentu berimplikasi positif maupun negatif tergantung dari sudut pandang yang digunakan.

Sebagai contoh, langkah Pertamina menyediakan Bahan Bakar Gas (BBG) dalam jumlah ”ultra massif” seperti saat ini, jauh lebih massif dari yang telah dilakukan sebelumnya, adalah implementasi dari kebijakan pemerintah melakukan konversi dari minyak tanah (mitan/BBM) ke BBG untuk kebutuhan bahan bakar rumah tangga. Langkah pemerintah ini sebagai respon atas mulai terjadinya krisis energi di level dunia yang berimplikasi pada naiknya harga minyak mentah sebagai bahan baku BBM, yang pada gilirannya berimplikasi pada membengkaknya anggaran yang harus disediakan oleh negara-negara yang memiliki kebijakan untuk memberikan subsidi bagi kebutuhan bahan bakar bagi warganya.

Sebagai langkah yang tidak murni berbasis bisnis, dan bahkan cenderung politis, maka penyediaan BBG ”ultra massif” di Indonesia sebagai konversi dari mitan tentu tidak lagi dapat semata-mata mengedepankan prinsip-prinsip yang dipegang teguh dalam bisnis. Banyak kepentingan dan ”tangan” yang kemudian ”bermain” dalam program ini, yang berlangsung di setiap lapis tahapan proses. Akibatnya, dalam ”aura” dan ”desah nafas” korupsi yang masih subur di lingkungan aparatur negara, program konversi Pertamina kesulitan untuk dapat menghadirkan kualitas sepadan dengan standar harga yang disediakan (harga beli = harga konsumen + subsidi). Banyaknya peristiwa meledaknya kompor dan tabung gas bantuan pemerintah bersimbol Pertamina, atas sebab dan alasan apapun, yang ”menyemarakkan” proses konversi mitan ke BBG, menunjukkan belum tercapainya kualitas standar yang diperlukan bagi tersedianya bahan bakar murah namun tidak sekaligus memurahkan harga nyawa manusia. Hanya karena Pertamina adalah satu-satunya perusahaan yang menjadi aktor utama dalam konversilah (meskipun tentu ia menggandeng rekanan dalam pengadaan berbagai kelengkapannya), maka Pertamina dapat berdiam diri tanpa ada kekhawatiran pangsa pasarnya di arena penyediaan energi bagi rumah tangga akan direbut oleh perusahaan lain.

Hal semacam di atas seharusnya tidak perlu terjadi pada Pertamina sebagai perusahaan besar berumur cukup yang telah beroperasi di level internasional. Sebagai perusahaan yang telah memiliki anak perusahaan di luar negeri, Pertamina semestinya dengan gigih bekerja keras menghalau kepentingan-kepentingan dan ”permainan-permainan” dari aktor-aktor di luar tubuhnya yang hanya bertujuan menangguk untung bagi kepentingan pribadi atau klan politik tertentu dengan cara-cara tidak wajar, tanpa memikirkan ”brand image” Pertamina di satu sisi dan keselamatan nyawa warganegara Indonesia di sisi lain. Belum tuntasnya program konversi, meski di satu sisi dapat dinilai sebagai kelambanan, namun di sisi lain dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk melakukan evaluasi dan koreksi atas berbagai kelemahan dan kesalahan yang telah terjadi. 

PERTAMINA DAN PEMBARUAN ENERGI

Sudah dimaklumi bahwa dunia hari ini sedang berada dalam fase permulaan bagi terjadinya krisis energi-tak-terbarukan. Ladang-ladang minyak mulai berkurang kapasitas produksinya, dan bahkan tidak sedikit yang telah terhenti sama sekali. Laju jumlah penemuan ladang-ladang baru minyak bumi dan sumber energi-tak-terbarukan lain seperti gas alam tidak sebanding dengan laju turun atau tutupnya lahan-lahan eksploitasi minyak bumi dan gas yang ada.

Pertamina, sebagai perusahaan yang bertanggungjawab atas ketersediaan energi bagi bangsa sangat diharapkan inisiatif dan langkahnya dalam melakukan antisipasi atas kemungkinan habisnya cadangan minyak di dunia pada suatu saat nanti. Langkah-langkah dan kerja keras perusahaan bersimbol ”P” yang dapat diartikan sebagai ”Progressive” ini dalam melakukan terobosan-terobosan alternatif bagi hadirnya sumber energi alternatif bagi masa depan sangat dinantikan.

Langkah-langkah tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh Pertamina dalam kapasitasnya sebagai perusahaan pertambangan, akan tetapi dapat dilakukan dengan menumbuhsuburkan lembaga-lembaga riset bagi pembaruan energi dan/atau penemuan energi alternatif, atas biaya Pertamina. Atau dapat dilakukan dengan memberikan aneka bantuan dan fasilitas bagi riset-riset individual terkait dengan penemuan energi alternatif dan/atau pembaruan energi.

Langkah lain yang diharapkan dapat diambil oleh Pertamina adalah dengan berbekal kesadaran dan kalkulasi atas menipis dan habisnya minyak dunia pada suatu saat yang nampaknya tidak terlalu lama lagi menurut ukuran perputaran dunia, perusahaan yang pernah menjadi kebanggaan bangsa ini dapat membentuk anak-anak perusahaan untuk bergerak di bidang energi alternatif, misalnya bio-energy. Di lapangan ini, anak-anak perusahaan Pertamina tidak harus hanya memproduksi bio-energy yang sudah ditemukan formulanya, akan tetapi dapat mulai melakukan eksperimentasi atas kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada aneka tanaman Indonesia yang seolah tak terhitung variannya itu untuk dijadikan sebagai sumber energi massif sebagaimana minyak bumi dan gas.

Tentu langkah-langkah di atas merupakan tantangan yang memerlukan kerja keras. Namun kerja keras untuk mendapatkan energi adalah sepadan. Terlebih, dalam perputaran roda sejarah, proses menghadirkan energi bagi penunjang kehidupan manusia selalu diawali dan dilakukan dengan kerja keras. Dengan demikian, sebenarnya kerja keras adalah energi kita yang mendasar. Persoalannya kemudian adalah, sudahkah kita menyadari bahwa pada hakikatnya, Kerja Keras Adalah Energi Kita?

 

Blog Contest 2009Artikel ini adalah salah satu Artikel yang diikut sertakan dalam Blog Contest 2009 yang diadakan oleh PT Pertamina, dengan tema :

Kerja Keras Adalah Energi Kita

 

Add comment


Security code
Refresh